Kesepakatan Kopenhagen, AS Tetap Diuntungkan, Negara Dunia Ketiga Tetap Jadi Korban
Oleh Althaf pada Ahad 20 Desember 2009, 04:04 PM
KOPENHAGEN (Arrahmah.com) - Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, berakhir dengan sebuah "Kesepakatan Kopenhagen" pada Sabtu (19/12) sore. Setelah debat dua minggu, konferensi ini berhasil membuat kesepakatan yang tak mengikat (AS dan negara-negara maju lainnya) untuk 'mencegah pemanasan global'.
Kesepakatan ini terjalin setelah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dan pemimpin China melakukan diplomasi berjam-jam pada Jumat dan Sabtu lalu untuk menghasilkan kesepakatan program bantuan iklim untuk negara-negara miskin. Namun, meski disepakati pemotongan lebih besar emisi karbon dioksida dan gas lainnya, tak ada kewajiban mengikat para pihak. Mereka hanya harus duduk bersama lagi tahun depan.
Namun Associated Press melaporkan, Ketua Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Iklim, Yvo de Boer, menyatakan kesepakatan ini menakjubkan. "Meski bukan sebuah kesepakatan yang mengikat secara hukum, bukan sebuah kesepakatan yang membuat negara-negara industri membuat target," ujarnya.
Terdapat sebuah kesepakatan internasional yang mengikat, sebuah perjanjian, mendesak pemotongan lebih jauh emisi oleh negara-negara maju. Perjanjian ini dijalin di Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007, yang mengikat para negara itu untuk duduk bersama lagi di Kopenhagen.
Sebuah perjanjian baru didesakkan setelah Protokol Kyoto tahun 1997 telah mengikat 37 negara untuk mengurangi emisi secara perlahan berakhir pada 2012. Banyak pihak berharap sebuah perjanjian baru muncul di Kopenhagen setelah Amerika Serikat menolak Protokol Kyoto.
Namun harapan baru di Kopenhagen itu mengabur setelah legislasi pertama di era Obama disahkan dengan susah-payah di Kongres. Tanpa komitmen Amerika, sebuah perjanjian baru akan sulit dihasilkan.
Tapi pada akhirnya, beberapa negara yang menghasilkan emisi besar menyetujui rencana pengurangan. Uni Eropa berkomitmen memotong 20 persen emisi pada 2020, Jepang 25 persen dan sementara Amerika hanya berkomitmen 3-4 persen.
Untuk pertama kalinya, China berkomitmen pengurangan pengeluaran gas rumah kaca, berjanji mengurangi "intensitas karbon", dan pengurangan bahan bakar fosil antara 40-45 persen. Sementara India, Brasil dan Afrika Selatan memiliki komitmen sukarela tersendiri.
Komitmen China dengan pengurangan emisi dari bahan bakar fosil ini sendiri dinyatakan para ilmuwan berperan kecil dalam mengurangi kenaikan suhu. Sementara perubahan iklim diduga akan memunculkan bencana-bencana serius di masa depan, mulai dari banjir pasang sampai kepunahan spesis.
Berikut beberapa Kesepakatan Kopenhagen:
- Bangsa-bangsa sepakat bekerjasama mengurangi emisi dengan "sudut pandang" para ilmuwan peringatkan tentang mencegah temperatur naik 2 derajat Celcius.
- Negara-negara berkembang akan melaporkan setiap dua tahun aksi sukarela mengurangi emisi. Laporan ini akan tunduk pada "analisis dan konsultasi internasional".
- Negara-negara kaya akan mendanai US$10 miliar pertahun, program tiga tahun mendanai negara-negara miskin proyek-proyek menangani banjir dan dampak perubahan iklim dan pengembangan energi bersih.
- Para pihak menyusun sebuah "tujuan" mengumpulkan dana US$ 100 miliar pertahun pada tahun 2020 untuk program pencegahan perubahan iklim. (ap/viva/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
IslamicCity Bookstore
Menyediakan produk-produk Islami. Diskon setiap hari 15-60%.
www.theislamiccity.com
|
Support Our Jihad
|
Berita Sebelumnya
- Google Didenda Rp 140 Juta Per Hari
- Hijrah Momentum Kebangkitan Kekuatan Ummat
- Perancis Luncurkan Satelit Mata-Mata Militer Ke Luar Angkasa
- Salibis Tak Pernah Berhenti Alami Kerugian, Pasukannya Kembali Jadi Korban Di Afghanistan
- Sejumlah Rabi Kecam Menteri Pertahanan Israel
- Kongres AS Sahkan $636 M Lagi Untuk Anggaran Perang Obama
- Penembakan di Papua, Satu Orang Tewas
- Desentralisasi Kesehatan Dinilai Setengah Hati
- Obama Hibahkan Bantuan Miliaran Dolar Pada Israel
- CIA Bantu Otoritas Palestina Siksa Pendukung Hamas
Berita Terbaru
- Syekh Ayman Az-Zawahiri : Rakyat Amerika Hanya Dijadikan Tumbal!
- Penduduk Afghan Berang Setelah Tentara Salibis NATO Merobek Al-Qur’an
- Israel Telah Mengontrol 6,25 Persen Wilayah Gaza
- Kericuhan Warnai Penyegelan Masjid Ahmadiyah
- Mayoritas Penduduk Pakistan Memandang AS Sebagai Musuh
- Mujahidin Daulah Islam Irak Kibar Bendera Hitam di Baghdad
- Mujahidin Afghan Ucapkan Selamat Atas Penarikan Pasukan Belanda Dari Afghanistan
- Seharusnya Bebas, Putri Munawaroh Tetap Dihukum 3 Tahun
- Putri Munawaroh Divonis 3 Tahun, Puluhan Muslimah Caci Hakim
- Pengacara Optimis Putri Munawaroh Dibebaskan
Berita Terkait
- Penduduk Afghan Berang Setelah Tentara Salibis NATO Merobek Al-Qur’an
- Mayoritas Penduduk Pakistan Memandang AS Sebagai Musuh
- Mujahidin Afghan Ucapkan Selamat Atas Penarikan Pasukan Belanda Dari Afghanistan
- Imarah Islam Afghanistan : Tentara Salibis AS Dalang Peledakan Bus Sipil Afghanistan
- Wikileaks Kemungkinan Dioperasikan Oleh CIA
- Pejabat Afghan Laporkan Kematian 52 Sipil Afghan Akibat Serangan Udara NATO
- Wikileaks Kembali Bongkar Kekejian AS, Kini Dalam Perang di Afghanistan
- Tentara Salibis AS Yang Menghilang, Berada Dalam Tahanan Mujahidin
- AS Akan Kembali Kerjasama dengan Kopassus
- Helikopter NATO Alami “Kecelakaan” Lagi di Afghanistan